Diskusi Panel IV Industri Berbasis Batang Sawit dalam rangka Pekan Riset Sawit Indonesia 2019 diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan pada hari Jumat (02/08) di Jakarta.

Diskusi menampilkan presentasi dari peneliti terkait sawit dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit/PPKS, Balai Besar Teknologi Pati BPPT dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Kementerian LHK.

Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Asosiasi industri sawmill dan woodworking (ISWA) menjadi pembahas makalah dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, KLHK yang dibawakan oleh Jamal Balfas mengenai “Pemanfaatan Limbah Batang Kelapa Sawit untuk Produk Perkayuan”.

Menurut Jamal, batang sawit dapat ditingkatkan pemanfaatannya sebagai kayu lapis dan fancy flooring. “Kami sudah ujicobakan, ternyata industrinya antusias untuk melakukan produksi dan sudah melakukan penjajagan pasar” ujar Jamal.

Inovasi teknologi menghasilkan rendemen produksi kayu lapis sawit sekitar 26% dalam hal ini terjadi peningkatan rendemen sebesar 5%. “Peningkatan efisiensi dan produktivitas dapat dilakukan melalui beberapa modifikasi pada mesin dan peralatan produksi” sebut Jamal.

Produk kayu lapis sawit memiliki nilai ekonomi relatif baik dibandingkan dengan produk serupa yang terbuat dari kayu sengon. “Jika harga bahan baku sawit ini dapat ditekan maka harga jual akan lebih kompetitif” kata Jamal.

Mesin dan peralatan yang ada di industri pengolahan kayu saat ini dapat digunakan untuk produksi panel sawit. Namun agar proses produksi lebih praktis dan efektif, disarankan dilakuan beberapa modifikasi mesin. “Kami dari P3HH telah menyusun prototipe mesin pengolah barang sawit yang efisien” imbuh Jamal.

Kesinambungan produksi menjadi penting dan berhubungan erat dengan kelancaran suplai bahan baku. “Produksi venir dan kayu lapis sawit secara komersial perlu melibatkan pemilik kebun untuk dapat memperoleh kepastian pasokan bahan baku dan terintegrasi dengan industri pengolahannya” ujar Jamal.

“Diperlukan pula diseminasi dan promosi IPTEK pengolahan batang sawit menjadi produk perkayuan serta pengembangan jejaring dengan para pelaku usaha, akademisi, investor dalam pengembangan produk, kolaborasi riset dan pemasaran produk” kata Jamal.

Menanggapi hal tersebut, menurut pembahas dari APHI yang juga merupakan Ketua Bidang Hutan Tanaman, Soewarso menyatakan bahwa pemanfaatan batang kelapa sawit untuk produk perkayuan dalam industri berbasis batang sawit ini sangatlah potensial dan berpeluang tinggi sebagai pengganti bahan baku kayu yang selama ini digunakan. “Sudah terbukti, batang sawit dapat dimanfaatkan menjadi kayu lapis dan fancy flooring, selanjutnya diperlukan penelitian kemungkinan pemanfaatan batang sawit untuk industri pulp” ujar Soewarso.

Pemanfaatan batang sawit ini potensial dan ekonomis sebagai bahan baku pengganti kayu. “Harga batang sawit ini lebih murah dibandingkan harga kayu” sebut Soewarso.

Namun demikian, menurut Soewarso pengembangan tanaman sawit ini banyak menghadapi kendala, salah satunya terbentur aturan. “Sawit merupakan salah satu jenis komoditas yang dikecualikan atau tidak diperbolehkan di kawasan hutan, sehingga keberadaan sawit di hutan menjadi tidak jelas” imbuh Soewarso.

Oleh karena itu diperlukan penelitian terkait kebijakan Pemerintah tentang keberadaan sawit di kawasan hutan ini. “Pembahasan holistik terkait pengembangan komoditi minyak sawit dan juga produk kayu dari batang sawit serta aspek sosial ekonomi terkait kesejahteraan masyarakat menjadi hal yang penting” tutup Soewarso. (*)