Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum APHI, Iman Santoso pada FGD Pojok Iklim “Menuju 2020, Sejauh Mana Kesiapan Implementasi NDC di Indonesia?” pada hari Rabu (30/01) di Jakarta. Pada kesempatan tersebut APHI menyampaikan paparan yang berjudul Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap Capaian NDC Indonesia.
Menurut Iman, sektor usaha kehutanan berkontribusi positif dalam pencapaian target NDC Indonesia. “Pada hutan alam praktik Reduced Impact Logging (RIL) dan penerapan Silvikultur Intensif (SILIN) terbukti meningkatkan produktivitas hutan alam dan mendukung mitigasi perubahan iklim dalam penurunan emisi dan peningkatan karbon stok” ujar Iman.
Iman menyatakan bahwa praktik RIL telah diterapkan di Dwima Grup, Provinsi Kalimantan Tengah sejak 2008 dan diadopsi oleh 7 konsesi anggota hutan alam Dwima Grup. RIL-C berpotensi mengurangi emisi 40% dibandingkan dengan baseline. “Pada akhirnya RIL-C akan menghindari potensi deforestasi dan mendukung pencapaian TLAS/SFM” ujar Iman.
Menambahkan pernyataan Iman, Direktur Eksekutif APHI, Purwadi Soeprihanto mengatakan bahwa penanaman Teknik SILIN yang memanfaatkan areal 20% dari landscape kawasan IUPHHK terbukti meningkatkan produktivitas 3x lebih tinggi dari potensi hutan alam dengan sistem konvensional. “Namun perlu difikirkan insentifnya karena biaya pembuatan tanaman teknik SILIN ini cukup mahal baik yang menggunakan sistem jalur, apalagi yang menggunakan sistem rumpang” ujar Purwadi.
Purwadi menegaskan bahwa tantangannya saat ini adalah perlunya mekanisme benefit sharing bagi unit management yang telah mencapai target penurunan emisi. “Ini bisa diajukan melalui skema karbon kredit” pungkas Purwadi. (*)