Cina saat ini sedang bergiat mengembangkan bisnis kehutanannya sebagai salah satu penggerak perekonomian. Karenanya, aspek-aspek keberlanjutan menjadi kebutuhan dan keharusan termasuk didalamnya aspek sertifikasi. Baru-baru ini, Delegasi China yang dipimpin oleh Hao Yanling Deputy Director National Forestry and Grassland Administration (NFGA) bersama Chinese Academy of Forestry (CAF) mengadakan studi banding terkait Sertifikasi Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) selama sepekan di Indonesia.

Kunjungan Delegasi China ke Indonesia ini, seperti yang dipaparkan oleh Hao Yanling pada pertemuan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan perwakilan asosiasi sektor kehutanan (APHI, APKI, APKINDO, ISWA, ASMINDO, HIMKI) serta lembaga terkait lainnya di Jakarta, pada hari Jumat (28/06) akan difokuskan pada studi banding mengenai implemetasi sistem penjaminan legalitas kayu, penjajakan kerjasama pengakuan kayu legal, serta kerjasama dibidang tata kelola hutan dan pengelolaan hutan berkelanjutan.

Hao Yanling yang didampingi 5 orang anggotanya, melakukan kunjungan ke industri di bidang kehutanan seperti Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk (Indah Kiat Serang) guna melihat dari dekat implementasi SVLK. “Kami sudah mempunyai sistem verifikasi legalitas kayu, namun masih perlu penyempurnaan” ujar Hao Yanling.

Direktur Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Hutan, Kementerian LHK Rufi’ie menyambut baik kunjungan Delegasi China-NFGA & CAF ke Indonesia. “Kami dengan senang hati akan memberikan informasi yang dibutuhkan mengingat sistem verifikasi legalitas kayu Indonesia sudah diakui oleh Uni Eropa” kata Rufi’ie.

Anggota Bidang Humas & Kerjasama APHI Trisia Megawati KD menjelaskan potensi kerjasama Indonesia dan China ini masih memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan di masa datang. “Industri kehutanan masih memiliki peluang yang bagus, apalagi saat ini perang dagang Amerika-China menjadi salah satu pendorong bagi China untuk mencari pasar yang baik bagi industrinya. Demikian juga pelaku bisnis di Indonesia melihat pangsa pasar China sangat menjanjikan. Artinya, sertifikasi menjadi salah satu faktor penting untuk dibahas dalam aspek kebijakan ekspor dan impor hasil hutan,” jelas Trisia.

Kunjungan Delegasi China-NFGA & CAF kali ini, juga akan mendiskusikan MoU kerjasama dengan China yang akan berakhir pada tahun 2015. (*)