Sosialisasi dan penjelasan sistem penjualan kayu online melalui e-commerce dengan sistem Indonesian Timber Exchange (ITE) dilaksanakan di Jakarta pada hari Selasa (16/04). Sistem ITE yang dikembangkan oleh Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) bersama PNORS Australia ini sudah berjalan namun masih dalam tahap pengembangan. Sosialisasi ini dihadiri oleh para Ketua Umum dari asosiasi kehutanan, mulai dari APHI, APKINDO, ISWA, APKI dan HIMKI.

Dalam presentasinya Marketing Digital PNORS Australia, Nick Smith menjelaskan latar belakang PNORS beserta jaringanya dan proses pengembangan sistem ITE, manfaat sistem ITE untuk supplier, manfaat sistem ITE untuk Asosiasi dan manfaat sistem ITE untuk buyer. “Kami terus mengembangkan sistem ITE ini agar lebih mudah dalam pengoperasian dalam jaringan pasar yang telah ditetapkan baik di Australia maupun di Eropa” ujar Nick.
Sementara itu, Client Services Manager  PNORS di Indonesia Ani Romsita mempresentasikan demo sistem ITE yang meliputi cakupan isi dari sistem ITE dan langkah-langkah proses transaksi didalam sistem ITE dari sisi suplier dan buyer. “Kami masih membutuhkan data mengenai komoditi yang akan ditawarkan pada sistem, termasuk data perusahaannya” kata Ani.
Ketua Umum APHI, Indroyono Soesilo menyatakan bahwa produk yang dipresentasikan di sistem ITE dapat berupa kayu bulat dan produk olahan dari industri (mencakup hulu-hilir) dan perusahaan yang akan bergabung di sistem ITE bisa perusahaan dengan skala kecil sampai dengan skala besar. “Cakupan pemasaran di sistem ITE dapat berupa pasar domestik dan pasar global, perusahaan dengan skala kecil menengah bisa memanfaatkan sistem ini agar dapat mengekspor” kata Indroyono.
Indroyono menambahkan bahwa supplier yang akan bergabung dengan sistem ITE akan dibebaskan dari biaya regulasi sampai dengan Agustus 2019 dan harus menandatangani agreement terkait hak dan kewajiban. “Kami mengharapkan anggota asosasi dapat memanfaatkan sistem ITE ini khususnya untuk memperluas pemasarannya” ujar Indroyono.
Pada sistem ITE, buyer yang akan melakukan penawaran terhadap suplier dapat melakukan negosiasi melalui email agar tercapai kesepakatan bersama. “Kami menciptakan kemudahan dalam sistem ini, namun diharapkan semua dapat mengikuti aturan mainnya” sebut Indroyono.
Mekanisme pengiriman barang dan asuransi akan diserahkan pada kesepakatan kedua belah pihak (supplier dan buyer). “Yang penting informasinya sudah lengkap dalam sistem, sehingga buyer akan mudah memiliih dan melakukan transaksi terhadap produk hasil hutan pada sistem tersebut” ungkap Indroyono.
Untuk kelengkapan sistem, perusahaan anggota APHI dan perusahaan anggota asosiasi sektor kehutanan (APKINDO, ISWA, APKI, HIMKI) diminta untuk mengirimkan data agar dimuat di beranda sistem ITE sebelum akhir bulan April 2019. “Kami berharap sistem ini dapat running dan menjadi barometer kemudahan pemasaran hasil hutan dari Indonesia” sebut Indroyono.
Kedepan akan dibuat link dari website masing-masing asosiasi di home sistem ITE. Untuk tahap awal operasional secara komersial, masih diperlukan kombinasi antara sistem ITE dengan komunikasi secara manual. Dan untuk memudahkan penggunaan sistem ITE, perlu ditambahkan “chat feature” di sistem ITE ini. *