Pasar produk kayu ke Australia masih cukup terbuka lebar namun belum digarap dengan serius. Demikian dikatakan Ketua Umum APHI, Indroyono Soesilo saat bertemu dengan General Manager Australian Timber Importer Federation, John Halkett di Sydney Australia, pada hari Selasa (27/08/19).

Pertemuan dengan nuansa keakraban menghasilkan beberapa kesepakatan penting yang berkaitan dengan pemasaran hasil hutan kayu ke negara Kangguru tersebut.

Menurut Indroyono, potensi pasar hardwood dari Indonesia ke Australia masih sangat besar, tapi masih kurang dimanfaatkan. “Indonesia belum bisa memaksimalkan strategi marketing di pasar Australia” sebut Indroyono.

Pasar hardwood dari Indonesia yang diketahui pasar Australia hanya merbau decking, padahal Indonesia memiliki potensi hardwood jenis lain.”Masih banyak jenis-jenis kayu lainnya, seperti meranti, kapur, nyatoh, bangkirai, melapi, ulin, matoa, dan masih banyak potensi lainnya” ungkap Indroyono.

Jika Indonesia tidak segera mengisi pasar hardwood Australia maka peluang ini akan ditangkap oleh negara lain. “saya melihat produk kayu dari Chile, Myanmar, Peru dan PNG sudah siap masuk ke pasar Australia” kata Indroyono.

Mengamini pernyataan Ketua Umum APHI, General Manager Australian Timber Importer Federation John Halkett menyatakan, saat ini hardwood dari Indonesia dipakai untuk pembuatan rumah di Australia. “Paling tidak kebutuhannya untuk mendukung pembuatan 300.000 unit rumah pertahun” ujar John.

Dalam konteks ini Indonesia harus mulai memasarkan produk-produk kayu lainnya, dan harus memiliki species guide. “Untuk tahu lebih lanjut soal species guide dan potensi pasar-pasar kayu dunia, kita bisa buka website woodsolution,” kata John.

Harga hardwood dunia saat ini, trendnya sedang turun. Orang semakin banyak menggunakan engineered wood products, termasuk solid floorwoods dari laminated woods. “Semuanya masuk dari China, makanya Indonesia harus bersiap untuk mengantisipasi ini” ujar John.

Supply kayu dari Indonesia ke Australia kadang-kadang sulit untuk berlanjut. “Bulan ini dikirim 100 containers, bulan depan turun menjadi 50 containers, bulan depannya lagi tidak jelas mau kirim berapa, “ sebut kritik John.

Upaya membangkitkan industri kayu gergajian di Papua Barat pernah dilakukan oleh John Halkett beberapa tahun yang lalu, namun sekarang terhenti. Perlu dukungan berbagai pihak untuk mengatasi masalah ini, salah satunya mensinergikan usulan APHI untuk melakukan ekspor kayu langsung dari Papua Barat melalui kebijakan otonomi khusus. (*)