Menindaklanjuti MOU Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dengan Dewan Atsiri Indonesia (DAI) mengenai kerjasama pengembangan atsiri di hutan produksi, APHI bekerjasama dengan Ditjen Penguatan Inovasi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan Marta Tilaar Group mengadakan FGD “Optimalisasi Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu: Minyak Atsiri dan turunannya” pada hari Jumat (30/11) di Kampoeng Djamoe Organik Martha Tilaar Ciujung, Cikarang.
Direktur Inovasi Industri, Dirjen Penguatan Inovasi, Kemenristekdikti, Santosa Yudo Warsono mengatakan FGD bertujuan mengoptimalisasi lahan dan diversifikasi usaha untuk meningkatkan kinerja serta kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan sebagai paradigma baru pengelolaan hutan produksi lestari. “FGD ini dalam rangka untuk memberikan rekomendasi solusi permasalahan hulu, tengah dan hilir” Ujar Santosa.
FGD tersebut dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai industri dan institusi terkait, antara lain Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Kementerianristek Dikti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dewan Atsiri Indonesia, dan lain-lain.
Ketua Bidang Pengembangan Usaha APHI, Endro Siswoko menyatakan bahwa keberhasilan pengembangan atsiri di Indonesia harus ada konektifitas antara akademisi, balai riset, pemerintah, dan industri, perlu ada terobosan inovasi yang dapat memberikan nilai tambah. “Dalam hal ini, perlu teaching industry (bibit unggul, alat suling efisien), bridging dalam skala komersial, kejelasan pasar dan offtaker” kata Endro.
Dari hasil FGD, diketahui bahwa permasalahan di hilir antara lain standar mutu, sustainability bahan baku (kebutuhan besar belum terpenuhi). Sementara permasalahan di hulu yaitu belum tercukupinya bibit unggul, kepastian lahan. Tantangan kita bagaimana memecahkan permasalahan hulu-hilir ini sehingga minyak atsiri bisa dikembangkan secara profesional di lahan hutan kita. Semoga dapat segera dituntaskan tantangannya (*)