Perubahan lingkungan strategis (outward looking) usaha sektor kehutanan yang diikuti dengan perubahan arah kebijakan Pemerintah yang memberikan perhatian lebih pada isu sosial dan lingkungan, menuntut APHI dan anggotanya untuk mampu melakukan optimalisasi dan diversifikasi pemanfaatan sumber daya hutan untuk mendorong peningkatan kinerja sektor usaha kehutanan melalui pengembangan inovasi baru. Peryataan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo pada Diskusi pembahasan Bisnis Plan PT. Diamond Raya Timber (PT. DRT) di Jakarta pada hari Selasa (18/12).

Menurut Ketua Umum APHI, dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan maka para anggota APHI telah berupaya untuk melakukan optimalisasi pemanfaatan kawasan yang terintegrasi. “Upaya angggota APHI ini perlu mendapat dukungan dari para pihak dalam pelaksanaannya” ujar Indroyono.
Ketua Umum APHI sangat mendukung dan mendorong anggotanya untuk melakukan multi usaha di areal kerjanya, tidak hanya kayu tetapi juga jasa lingkungan, HHBK maupun ekowisata. Kedepan, PT DRT akan melakukan usaha terintegrasi mulai dari kayu, ekowisata, HHBK, silvofishery dan lainnya. “Kegiatan ini akan terealisasi apabila didukung oleh para pihak yaitu Pemda, Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian terkait, Masyarakat dan investor” kata Indroyono.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Pengembangan Usaha APHI Endro Siswoko menyatakan bahwa upaya ini sejalan dengan program Pemerintah yaitu mengoptimalkan pemanfaatan kawasan hutan yang memberi dampak bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Menurut Endro, dilihat dari potensi yang ada di areal PT DRT mempunyai peluang untuk mengembangkan hasil hutan non kayu yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. “Ini sekaligus sebagai jawaban untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi konflik-konflik sosial yang terjadi di dalam kawasan konsesi hutan PT. DRT” kata Endro.

Mendukung pernyataan Endro Siswoko, Ketua Umum APHI kembali menyatakan bahwa endorsment dari pemerintah sangat diperlukan agar kegiatan ini dapat dilaksanakan dan menjadi sebuah percontohan. “APHI berharap lokasi ini akan menjadi demplot untuk pengembangan ekowisata di Provinsi Riau” ujar Indroyono.

Lebih lanjut Indroyono mengatakan bahwa untuk meningkatkan potensi dan pemasaran maka obyek di lokasi PT DRT ini jika dimungkinkan akan dijadikan satu paket dengan atraksi atau obyek wisata lainnya seperti Pulau Jemur, Candi Muara Takus, Wisata Bono dll. “Atraksi yang ditawarkan di DRT cukup banyak dan menarik, meliputi kegiatan pengelolaan hutan dari hulu sampai hilir, wisata lori, kegiatan pemberdayaan masyarakat dari perambah hutan menjadi petani hutan, termasuk juga industri HHBK” sebut Indroyono.

Menggarisbawahi pernyataan sebelumnya, Indroyono menegaskan bahwa pengembangan ekowisata ini diharapkan akan mendapat dukungan dari stakeholder khususnya regulasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan ekowisata lebih luas. “Tujuan akhir kita agar dapat diperoleh optimalisasi pemanfaatan kawasan hutan” tutup Indroyono (*)